Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.
Showing posts with label magic world. Show all posts
Showing posts with label magic world. Show all posts

Titip Ibuku ya Allah

Monday, 10 March 2008


" Nak, bangun... udah adzan subuh. Sarapanmu udah ibu siapin di meja..."

Tradisi ini sudah berlangsung 20 tahun, sejak pertama kali aku bisa mengingat. Kini usiaku sudah kepala 3 dan aku jadi seorang karyawan disebuah Perusahaan Tambang, tapi kebiasaan Ibu tak pernah berubah.

" Ibu sayang... ga usah repot-repot Bu, aku dan adik-adikku udah dewasa" pintaku pada Ibu pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah. Pun ketika Ibu mengajakku makan siang di sebuah restoran. Buru-buru kukeluarkan uang dan kubayar semuanya. Ingin kubalas jasa Ibu selama ini dengan hasil keringatku. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan.

Kenapa Ibu mudah sekali sedih ? Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami Ibu karena dari sebuah artikel yang kubaca ... orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan cenderung untuk bersikap kanak-kanak ..... tapi entahlah.... Niatku ingin membahagiakan malah membuat Ibu sedih. Seperti biasa, Ibu tidak akan pernah mengatakan apa-apa...

Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya,

"Bu, maafin aku kalau telah menyakiti perasaan Ibu. Apa yang bikin Ibu sedih?" Kutatap sudut-sudut mata Ibu, ada genangan air mata di sana.

Terbata-bata Ibu berkata: "Tiba-tiba Ibu merasa kalian tidak lagi membutuhkan Ibu. Kalian sudah dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Ibu tidak boleh lagi menyiapkan sarapan untuk kalian, Ibu tidak bisa lagi jajanin kalian. Semua sudah bisa kalian lakukan sendiri"

Ah, Ya Allah, ternyata buat seorang Ibu .. bersusah payah melayani putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan.

Satu hal yang tak pernah kusadari sebelumnya. Niat membahagiakan bisa jadi malah membuat orang tua menjadi sedih karena kita tidak berusaha untuk saling membuka diri melihat arti kebahagiaan dari sudut pandang masing-masing.

Diam-diam aku bermuhasabah. .. Apa yang telah kupersembahkan untuk Ibu dalam usiaku sekarang? Adakah Ibu bahagia dan bangga pada putera putrinya? Ketika itu kutanya pada Ibu, Ibu menjawab,

"Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kalian berikan pada Ibu. Kalian tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan. Kalian berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat Ibu. Kalian berprestasi di pekerjaan adalah kebanggaan buat Ibu. Setelah dewasa, kalian berprilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu kebahagiaan buat Ibu. Setiap kali binar mata kalian mengisyaratkan kebahagiaan di situlah kebahagiaan orang tua."
Lagi-lagi aku hanya bisa berucap,"Ampunkan aku ya Allah kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang kuberikan kepada Ibu. Masih banyak alasan ketika Ibu menginginkan sesuatu."

Betapa sabarnya Ibuku melalui liku-liku kehidupan. Sebagai seorang wanita karier seharusnya banyak alasan yang bisa dilontarkan Ibuku untuk "cuti" dari pekerjaan rumah atau menyerahkan tugas itu kepada pembantu.
Tapi tidak! Ibuku seorang yang idealis. Menata keluarga, merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang takkan bisa dilimpahkan kepada siapapun. Pukul 3 dinihari Ibu bangun dan membangunkan kami untuk tahajud. Menunggu subuh Ibu ke dapur menyiapkan sarapan sementara aku dan adik-adik sering tertidur lagi...
Ah, maafin kami Ibu ... 18 jam sehari sebagai "pekerja" seakan tak pernah membuat Ibu lelah.. Sanggupkah aku ya Allah?

" Nak... bangun nak, udah azan subuh .. sarapannya udah Ibu siapin dimeja.. "
Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul Ibu sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya lekat-lekat dan kuucapkan,

" Terimakasih Ibu, aku beruntung sekali memiliki Ibu yang baik hati, ijinkan aku membahagiakan Ibu...".
Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan. .. Cintaku ini milikmu, Ibu... Aku masih sangat membutuhkanmu. .. Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat dirimu..

Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat "aku sayang padamu... ", namun begitu, Rasulullah saw menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai karena Allah.

Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita ... Ibu dan ayah walau mereka tak pernah meminta dan mungkin telah tiada.
Percayalah.. . kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan bahagia.

(Ini entah tulisan siapa, dikirim ke e-mailku oleh seorang teman, bila penulisnya baca disini mohon tidak keberatan. Mudah-mudahan banyak orang dapat mengambil faedah..)


[get this widget]

SAMBUTAN HANGAT LIMA BELAS MENIT

Friday, 7 March 2008

Saya keluar dari Bandara Internasional O'Hare di kota Chicago dan bergegas menuju taxi yang sudah menunggu. Saya disambut dengan seorang sopir taxi dengan janggut lebat, memakai topi baseball dan tangan kekar bertato.

Ketika meleparkan kopor saya ke dalam bagasi mobil, dia membaca kartu nama yang ditempel di kopor dan berkata, "Anda dokter apa?"

"Dokter hewan," jawab saya. Segera, wajahnya yang kaku mencair berubah menjadi sebuah senyuman. Hal ini selalu dihadapi oleh dokter hewan, karena orang-orang senang membicarakan hewan piaraan mereka.

Pintu ditutup, dia mengoper gigi mobil dan membuka percakapan, "Istri saya mengklaim kalau saya lebih mencintai Missy anjing pudel saya, lebih daripada mencintainya. Dia ingin agar saya menyambut dia seperti saya menyapa Missy. Tapi dokter, hal itu tidak mungkin dilakukan. Anda tahu, ketika saya pulang setelah seharian berada di kursi mobil, begitu lelah, saya membuka pintu rumah dan ada dua yang menyambut saya, yaitu Ma, istri saya dan Missy. Wajah Ma sangat kusut dan siap melampiaskan semua amarahnya. Sebaliknya, Missy yang ada disampingnya, sibuk menggoyangkan ekor dan tubuhnya, sangat gembira dan tidak sabar untuk menemui saya - senyumnya sangat lebar. Sekarang coba dokter pikirkan, siapa yang
pertama kali akan saya dekati?"

Saya menganggukkan kepala menyetujui pendapatnya karena saya sangat memahami situasi yang dihadapinya. Dia mencintai istrinya, tapi dia hanya butuh kesempatan untuk menerima lima belas menit sambutan hangat dari Missy anjing pudelnya.

Setiap orang menginginkan sambutan hangat saat pulang ke rumah. Dan para pemilik hewan piaraan selalu mendapat lima belas menit sambutan hangat saat pulang ke rumah - bahkan saat kembali dari kamar sebelah.

Beberapa hari setelah bertemu dengan sopir taksi di Chicago, saya pulang. Saya sangat lelah setelah perjalanan panjang ini dan sangat rindu bertemu keluarga saya.

Dalam perjalanan pulang saya mengintip dari jendela mobil, mencari-cari orang-orang yang saya cintai. Dua anak saya, Mikkel dan Lex yang walaupun sangat dengat dengan ayahnya, tetapi saya tidak melihat wajahnya mengintip di jendela menyambut saya. Atau bahkan istri tercinta saya, Teresa, sangat mustahil membayangkan seperti kejadian yang ada di film, berlari dengan gerak lambat melintasi halaman rumah dengan tangan terbuka untuk siap untuk memeluk.

Tetapi saya tidak kecewa. Saya tahu masih punya yang saya inginkan, yaitu dua pahlawan saya yang setia, Scooter, anjing fox terrier dan Sirloin, anjing labrador retriever warna hitam legam.

Begitu saya sampai depan pagar, Sirloin dan Scooter sudah ribut tidak sabar untuk menjemput saya. Mata mereka berbinar-binar gembira dan mengibas-ngibaskan ekor dengan lincah.

Apakah ini hanya sebuah kebiasaan rutin atau sambutan tulus untuk saya?
Apakah kemudian saya diam saja, acuh tak acuh, atau bahkan tidak memperdulikannya?

Kenyataannya, saya melupakan semua aturan itu. Saya segera keluar mobil dan tidak sabar bergegas memeluk Scooter dan Sirlon dengan bulu-bulu lembutnya.

Saya menerima sambutan hangat mereka dengan membuang semua basa-basi dan aturan protokoler. Saya menjadi diri sendiri, yang kelebihan berat badan, dengan kepala pening, kelelahan karena perjalanan panjang - semua itu sama sekali tidak menjadi masalah. Scooter dan Sirloin datang dengan membawa pertolongan emosional dan membiarkan saya merasakan kehangatan sambutan serta keceriaannya dalam waktu yang benar-benar saya butuhkan. Saya sungguh puas dengan penyambutan mereka.

Saya senang meluangkan saat-saat pribadi di rumah saya sendiri. Saya tersenyum dan menaikkan suara saya satu oktaf dan berseru, "Sirloin, kamu gagah sekali ya?" dan "Scooter,kamu hari ini tidak bandel khan? Kamu cantik sekali!"

Mereka menanggapi dengan menggoyangkan tubuhkan gembira, dan menggelayutkan serta berputar-putar diantara kaki saya. Saya merasa mendapat aliran tenaga baru. Kegembiraan saya pulih ketika melihat tingkah mereka memberikan sambutan hangat. Ya, saya senang sekali bisa pulang kembali!

Setelah itu saya menapaki anak tangga masuk ke dalam rumah untuk menemui keluarga dengan hati yang terbuka, beban yang lenyap dan semangat yang telah pulih karena sambutan hangat lima belas menit oleh Scooter dan Sirloin.

Ditulis oleh Marty Becker dan sampai ketangan saya melalui e-mail berantai yang dikirim teman.


[get this widget]

Siapa Siapkan Parasutku?

Thursday, 28 February 2008

Charles Plumb, seorang lulusan Akademi Angkatan Laut AS, pernah jadi penerbang jet di Vietnam. Setelah 75 misi pertempuran, pesawatnya tertembak rudal-darat-keudara, Plumb sempat melompat keluar, turun dengan payung udara dan jatuh ketangan musuh. Ia tertangkap dan menghabiskan 6 tahun disebuah penjara Vietnam.
Ia berhasil melewati masa cobaan penuh siksaan itu dan kini memberi kuliah tentang pelajaran2 berdasarkan pengalaman2nya itu.
Suatu hari, waktu Plumb dan istrinya sedang duduk disebuah restoran,seorang pria yang duduk dimeja lain menghampirinya dan berkata, “Heee,kamu kan Plumb! Kau yang menerbangkan jet2 tempur di Vietnam dari kapal induk Kitty Hawk. Pesawatmu kan rontok!”
“Lho, dari mana anda tahu? tanya Plumb. “Aku yang melipat dan menyiapkan parasutmu, ” jawab orang itu. Nafas Plumb tersentak kaget dan penuh syukur. Orang itu membuat isyarat dengan tangannya dan bilang, “Semuanya beres ya?” Plumb meyakinkan dia, katanya, “Oh ya tentu saja. Beres dan hebat, sekiranya parasutmu tidak mau buka, pastilah hari ini aku tidak ada disini.”
Malam itu Plumb tak bisa tidur, terus memikirkan orang itu. Ia bilang, “Aku terus menerus heran sendiri, bagaimana kira2nya rupa orang itu bila berseragam AL, dengan sebuah topi putih, ada secarik kain selempang dipunggungnya, dan celana2nya yang melebar dibawah. Berapa sering ya, aku pernah melihatnya dan tidak pernah menyapanya ‘Selamat pagi, apa kabar?’ atau lainnya, karena aku pilot penempur sedangkan dia cuma seorang marinir.
Plumb memikirkan dan membayangkan begitu banyaknya jam2 yang dihabiskan marinir itu pada sebuah meja kayu didalam lambung kapal itu, begitu teliti dan cermat merajut kain dan melipati sutra setiap parasut, memegang didalam tangannya, setiap kali, nasib dan hidup seseorang yang bahkan tidak ia kenal.
“Jadi sekarang,” Plumb bertanya pada pendengarnya, “siapakah yang menyiapkan parasutmu?” Setiap orang puny a seseorang yang mem berikan dan menyediakan kebutuhannya untuk melewati setiap hari. Ia juga menjabarkan bermacam parasut yang ia butuhkan waktu pada saat pesawatnya tertembak jatuh di atas teritori musuh — ia membutuhkan parasut jasmani, juga parasaut mental, parasut untuk emosinya, dan juga juga parasut spirituilnya. Ia mengandalkan pada semua dukungan itu sebelum ia melayang turun dengan selamat.
Terkadang dalam menghadapi tantangan2 yang diberikan hidup ini, kita lalai, luput dan mengabaikan apa yang sesungguhnya penting.
Kita mungkin lalai menyapa seseorang halo, maaf ya, mohon tolong, atau berterima kasih, mengucap selamat pada seseorang pada suatu
peristiwa indah, memberikan pujian dan semangat, atau hanya sekedar cuma berbuat baik tanpa alasan apapun.
Selagi kau jalani minggu ini, bulan ini, tahun ini, kenalilah orang2 yang membantu menyiapkan parasutmu. Ini kutulis dan kuceritakan untuk-mu, ungkapan terima kasihku padamu untuk perananmu dalam menyediakan dan mempersiapkan parasutku!
Dan aku harap engkaupun akan berbuat hal yang sarna pada orang2 yang telah membantu menyiapkan punyamu. Setiap kebaikan yang bisa kulakukan, atau setiap keramahan yang bisa kutunjukkan, biarkan kukerjakan sekarang juga, sebab belum tentu aku lewat sini lagi. (Lt. Colonel Hal Moore - We were Soldiers)


[get this widget]

Tuesday, 1 January 2008



[get this widget]

End Year Vacation

Saturday, 22 December 2007

Actually I want to go to Bali with my family in this end year vacation but unfortunately all planes there was fully booked. Bali is the most popular tourist destination in Indonesia. It is a land of soaring majestic volcanoes, of emerald rice fields clinging on hillsides and sculpted in tiers, of idyllic beaches and modern resorts. Despite overwhelming foreign influences, the Balinese have managed to reach a harmonious balance between preserving their culture, their natural environment and accommodating today’s changing world. The Hindu Bali religion pervades all aspects of Balinese society and shrines and temples dominate the landscape. Ceremonies, festivals, age-old dances and the arts are also an inseparable part of their life and culture.

[get this widget]

YouR HearT, YouR EmotioNs

Saturday, 15 December 2007

The human heart is the seat of all human emotions. A heart that is full of evil emotions and thoughts is but a favourite place for Satan. Those hearts that are disbelieving, doubtful and mischief-mongering are, according to the Quran, hearts that have been sealed. God Almighty says in His book: `thus do we seal the hearts of transgressors' (10:75) and: `I will cause terror into the hearts of those who disbelieve' (8:12) The Quran makes many such references to the human heart. The Book of Allah proclaims numerous merits of a sound heart, a contended heart full of unbounded love and deep understanding of God and mankind, His creation. For instance the perfect Book of Allah proclaims: `Lo, it is in the remembrance of Allah that hearts can find comfort' (13:28) And Allah admonishes all Muslims that: `He united your hearts in love' (3:104) and that He: `put your hearts at rest' (3:127)Scientific research has conclusively proved that there is a vital link between the state of one's thinking and one's physical well-being. A healthy heart will undoubtedly keep a mind healthy and vice versa. A person's character is built on his thoughts, in other words, we are what we think. Allah our merciful Lord through His benevolence has given us the choice and power to govern our thoughts and thereby build a character that is worthy of praise. An immoral character grows from the seeds of immoral thoughts while a virtuous character grows from the seeds of virtuous thoughts. As mentioned earlier, the heart is where all kinds of good or bad thoughts are born. Therefore, it is imperative to cultivate a pure and clean heart. A recent article in the famous American magazine Psychology Today dated February 1989 illustrates the relationship between the heart and the soul in the following words:`Scientific medicine has made extraordinary progress against heart disease, by denying one of mankind's most romantic notions - that our emotions centre in the heart. By treating the heart as an unfeeling pump, surgeons have been able to create pacemakers and work their way up to the ultimate in high-tech medicine - the artificial heart. Even as Barney Clark and other courageous patients were using psychology and hard data to discover that trouble in the heart may come in part from sickness of the soul. Spiritual need may be the underlying crisis among people prone to heart attacks. Harvard cardiologist, Herbert Benson agrees. Dr. Benson has shown how using a repetitive prayer produces sharp reductions in heart beat and blood pressure. At the University of Maryland, psychologist, James Lynch continues to explore the psychological side of high blood pressure. Blood pressure goes up when we talk and down we listen to another person.'Different states of heart:The following quotation from the Bible creates a striking resemblance between one's mind and heart: `As a man thinketh in his heart, so he is' (Proverbs 23:7). We know there are various states of mind and likewise there are different states of heart. According to the Oxford Dictionary the heart is the seat of all emotions, soul, mind, courage, etc. When one is thankful to a person, one thanks him from the bottom of one's heart and when one is stricken with grief, it is heart-rending. If a person is courageous, we call him lion-hearted and to describe sincerity we say it is heart-felt. An unexpected piece of news or an event can break one's heart and to understand the essence of matter, is to get to the heart of the matter. When you like a person deeply beyond description, you say he is a man after my heart. Lest we forget to mention the change of heart, it is one of the rare human traits that has not been bestowed to any other creature. Some people have a change of heart too often and others have a heart made of rock.A sincere Muslim is one who examines his heart from time to time to see if this feelings towards others are tender, his motives are honest, he is loving towards others and his heart is in constant search for truth and love of God. Such a heart is an epitome of love, kindness, courage, affection, honesty, truth, sincerity and humility. Hadhrat Jesus, son of Mary, (peace be upon him), is reported to have said: `Thou shalt love the Lord thy God with all thy heart, and with all thy soul and with all thy mind.' The Prophet of Islam (peace and blessings of Allah be upon him), has also described the importance of a pure and sincere heart. According to the most reliable book of Hadith, al-Bukhari, he told one of his companions: `In the body there is a piece of flesh, when it is healthy, the whole body is healthy, and when it becomes unhealthy, the whole body gets unhealthy, and lo that piece is the heart.' This succinct quotation illustrates that a human heart is the fountain-head of all our emotions. If one's heart entertains pure thoughts then all of one's deeds will be upon the road to virtue, but if one's heart if full of vicious thoughts and ideas, then one is bound to follow the path of vice.Thoughts and ideas are born in a heart like seeds in a garden that soon sprout into full grown plants. Purity of heart stimulates the growth of the tree of virtue. The crux of the matter is that if one's heart is in good shape, then one's hands, feet, tongue, mind and eyes will be in good shape as well. In our day-to-day contact with others, one should always remember the following formula: `to handle yourself, use your head, to handle others use your heart.'A beating heart:How many times does a heart have to beat? At least 70 times every minute, for an average of 75 years. In round numbers, that turns out to be 100,000 times a day, or three billion times in a lifetime. Sometimes two hearts beat one, some are lonely, some half hearted and some are broken. Some are saddened, some are, like a bird, gladdened and some are worn upon your sleeve. Our daily conversation is full of wonderful references to our heart: `his heart was in his mouth', or `his heart was not in it', or `deep in the heart of Ontario', or `heart of the matter.' `Heart' is used as a symbol of love. It is said that we subconsciously remember the beat of our mother's heart from when we were in the womb. Did you know that when zoo-keepers have an orphaned baby monkey, they help its chance of survival by keeping it attached to a bundle of blankets with a mechanism that produces the `thump-thump' of a mother's heart-beat?All praise belongs to Allah!wrote by brother Zakaria Virk


[get this widget]

Peace and security on a Global Level

Friday, 14 December 2007

This a nice topic from Friday Sermon that the Holy Qur’an addresses all nations of the world on the basis of humanity:“O mankind We have created you from male and female; and We have made you into clans and tribes that you may recognise one another. Verily, the most honourable among you, in the sight of Allah, is he who is the most righteous among you. Surely, Allah is All Knowing, All-Aware.” (49:14)This is the Islamic teaching of brotherhood. A righteous believer is enjoined to adhere to this teaching and indeed to propagate it. This alone can foster love, affection and equality. Peace and security can only be guaranteed in the world when the false and oppressive notion of supremacy for some nations is eradicated.Peace and security cannot be established until people of each race and each nation are able to ascertain that they are the children of Adam and are created by a male and female and are indeed equal. If one is better than the other, it is in terms of righteousness alone. However, whose righteousness is most excellent, only Allah knows, no one can adjudge this for themselves.Islam says that all mankind is like a family and it can only look after the peace and security of each other only if it lives like a close-knit family. The apparent differences in mankind are only for identification as to who is European who is Asian and who is African. As humans we are all the same and a person in Africa has the same sentiments as those of a person in Europe. Peace and security can only prevail when each others’ sentiments are cared for. These are the measures for durable peace and security that Islam presents, otherwise no matter how many Security Councils are formed durable peace cannot be maintained.This teaching did not just remain theoretical; the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be on him) put it all in practice. He loved the poor and the disadvantaged, freed the slaves, assigned the deprived their rights. At his farewell sermon, the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be on him) openly declared, “All of you are equal. All men, whatever nation or tribe they belong to, and whatever station in life they may hold, are equal…….an Arab possesses no superiority over the non-Arab, nor does a non-Arab over an Arab.”

[get this widget]

Life is Blessing!

Wednesday, 5 December 2007

This was a story about a king and his adviser. One day they were going for hunting to a jungle. They search for animal target but they found nothing and more of that the king got an accident; his finger was cut by his sword the time he cut trees around him with angry because he didn’t find the animal. After his hurt cured, the king still feel painfulness and asked to his adviser what must to do now to eliminate his painful? The adviser replied that the king couldn’t do anything except thanks to God, because whatever happened to our life there must be a blessing. Hearing the answer the king was unhappy and anger; ‘Are you crazy, man? Your king in painfulness must say grateful for that?” and in his anger the king ordered to his body guards to sent the adviser to jail, and after that soon the king promote a new adviser.


Three years after, in a jungle when the king was hunting, a primitive ethnic was arrested the king and his adviser, then the primitive make the king and the adviser as sacrifice in their ritual. Fortunately the time primitive people check his body they found one of the fingers of the king was flawed and they was think that couldn’t be as a sacrifice. Then primitive people released the king only the adviser was killed for the sacrifice.

As soon as he reached the palace, the king commanded to release the adviser from the jail and bring to face him. The king asked for apologize because was sent the adviser to jail for the advise was proven of correctness, and the king said if he understood to what the adviser was saying that whatever happened to our life there must be a blessing “You can imagine if my finger was not cut, so this day I was killed along with my adviser for sacrifice by the primitive people. Start from now your position as my adviser is back”.
The adviser said “you need no ask me apologize my Lord, I am very grateful to you was sending me to a jail for three years because if you didn’t, that’s mean the man who was killed as a sacrifice it’s me!”


[get this widget]